Rabu, 19 Desember 2012

6 Cara Pintar Penuhi Kebutuhan Protein untuk Tumbuh Kembang Balita

Jakarta, Balita memerlukan pemenuhan nutrisi yang seimbang di usianya agar dapat tumbuh dan berkembang dengan sehat. Salah satu nutrisi yang diperlukan oleh balita untuk tumbuh adalah protein, sehingga orang tua perlu memenuhi kebutuhannya.

Protein merupakan senyawa organik dalam makanan yang bermanfaat untuk membangun jaringan baru pada tubuh, memperbaki jaringan tubuh yang telah rusak, dan sumber pertahanan tubuh. Protein dapat diperoleh dari sumber hewani seperti daging, hati, ikan, kerang, udang, ayam, telur dan susu, serta dari sumber nabati seperti kedelai, kacang, beras, jagung, dan kelapa.

Tetapi balita mungkin membutuhkan porsi protein yang berbeda. Berikut adalah 6 cara pintar yang perlu Anda perhatikan dalam memenuhi kebutuhan protein balita, seperti dilansir whattoexpect, Kamis (20/12/2012):

1. Mengetahui jumlah kebutuhan protein anak
Balita memang belum begitu banyak membutuhkan asupan protein, namun tetap harus dipenuhi untuk kepentingan pertumbuhannya. Balita usia 1-3 tahun hanya mmebutuhkan sekitar 13 gram protein setiap hari, sementara balita usia 4-5 tahun membutuhkan protein sebanyak 19 gram setiap hari.

Sebagai acuan referensi jumlah protein yang terkandung dalam makanan, satu butir telur menawarkan sekitar 7 gram protein, satu cangkir susu mengandung sekitar 8 gram protein, setengah cangkir yogurt mengandung sekitar 5 gram protein, dan satu sendok makan selai kacang mengandung protein sekitar 4 gram.

2. Memberikan asupan susu
Susu merupakan sumber protein yang baik dan banyak disukai oleh anak-anak. Anda dapat menambahkan susu ke dalam sereal sarapannya anak atau menyajikannya langsung. Tetapi yang perlu Anda ingat adalah jangan terlalu banyak menambahkan gula pada susu untuk mencegah kegemukan dan karies gigi.

3. Mengenalkan yogurt sebagai makanan penutup
Sajikan yogurt dengan beberapa iris buah apel, pir, atau plum sebagai makanan penutup. Anak-anak biasanya akan menyukai sumber protein dengan rasa yang sedikit asam ini, sehingga Anda tidak akan kesulitan untuk memberikan yogurt pada anak.

4. Sajikan makanan dengan bentuk yang menarik
Anak mungkin tidak akan tertarik untuk makan makanan yang baru dikenalnya, sehingga Anda harus menyajikan makanan semenarik mungkin. Potonglah daging ayam atau keju ke dalam bentuk kubus kecil-kecil dan sajikan dengan cara mencelupkan ke dalam saus tomat agar anak lebih tertarik.

5. Berikan protein dari kacang-kacangan
Selai kacang adalah sumber protein alami yang sangat baik, tapi pastikan untuk mengoleskannya tipis-tipis di atas roti agar tidak membuatnya tersedak. Perkenalkan juga si kecil dengan beberapa jenis makanan seperti kacang tanah, kacang mete, atau kacang ijo yang dibuat bubur. Tetapi sebelumnya pastikan terlebih dahulu apakah balita Anda memiliki alergi terhadap kacang atau tidak.

6. Memberikan asupan protein ikan
Ikan merupakan sumber protein hewani yang sangat sehat, ditambah lagi ikan mengandung asam lemak omega-3 yang baik untuk perkembangan otak anak. Pilihlah ikan seperti nila, salmon, dan sebagainya yang disajikan dalam bentuk suwiran kecil-kecil.





Psikiater: Autisme & Asperger Tak Ada Hubungannya dengan Kekerasan

Jakarta, Penembakan yang terjadi di SD Sandy Hook, Connecticut dilakukan oleh seorang pengidap Asperger, yang dikenal sebagai salah satu bentuk autisme. Apakah benar si pelaku senekat itu gara-gara autis? Ahli kesehatan jiwa mengatakan, tidak.

"Tidak ada bukti adanya keterkaitan antara autisme maupun Asperger dengan kekerasan," kata Geraldine Dawson, profesor psikiatri dari University of North Carolina di Chapel Hill yang juga aktivis Autism Speaks, seperti dikutip dari Healthday, Senin (17/12/2012).

Otoritas penegak hukum seperti diberitakan Associated Press memang menyatakan bahwa Adam Lanza (20 tahun), pelaku penembakan yang menewaskan puluhan murid dan guru di SD Sandy Hook mengidap sindrom Asperger. Gangguan ini termasuk dalam kategori yang lebih luas yakni gangguan spektrum autisme.

Dua ciri utama pada gangguan spektrum autisme adalah kesulitan dalam melakukan interaksi sosial dan tendensi atau kecenderungan untuk melakukan perilaku repetitif atau diulang-ulang. Dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), tidak ada satupun ciri yang menyatakan adanya kecenderungan untuk melakukan kekerasan.

Salah satu penelitian memang pernah mengungkap bahwa kecenderungan untuk melakukan kekerasan pada pengidap autisme dan Asperger bisa lebih tinggi 20-30 persen dibanding populasi umum. Namun diyakini, jenis kekerasan yang dimaksud berbeda dengan yang ditemukan pada kasus penembakan di AS.

"Sangat manusiawi jika Anda tidak bisa menjelaskan perasaan, maka Anda akan bertingkah seperti orang frustrasi, marah dan agresif. Tapi ini tidak berarti merencanakan dan melakukan tidak kriminal seperti yang kita lihat di sini (kasus penembakan)," kata Eric Butter dari bagian psikologi anak Ohio State University.

Perilaku agresif pada pengidap autisme ataupun Asperger umumnya lebih bersifat reaktif dan impulsif (tiba-tiba), misalnya mudah marah, mendorong atau berteriak-teriak. Sekalinya marah, umumnya butuh waktu lebih lama untuk meredakannya kembali.

Orang Tua, Tiang Utama Keberhasilan Terapi Anak Autis

Jakarta, Jika Anda punya anak autis, jangan lantas merasa 'dunia berakhir'. Dengan terapi, anak autis bisa hidup mandiri. Bahkan mereka bisa berprestasi dengan bakat yang dimiliki. Nah, dalam terapi, orang tua merupakan tiang utama keberhasilan.

"Selain dimulai sedini mungkin, keberhasilan terapi abak-anak autis sangat tergantung dari keterlibatan orang tuanya," kata pendiri Masyarakat Peduli Autisme Indonesia (MPATI), Gayatri Pamoeji, dalam buku 200 Pertanyaan & Jawaban Seputar Autisme.

Berdasar riset Koegel dan Koegel tahun 2006, sebagaimana teori yang awalnya dilakukan Rocissano dan Yatcmink tahun 1983, keterlibatan orang tua secara konstan memberikan kemajuan yang lebih cepat pada anak-anak yang bermasalah dalam keterlambatan komunikasi atau bicara. Sebab orang tua adalah sosok yang paling mengerti karakter anak, sekaligus kekurangan dan kelebihannya. Selain itu, orang tua juga punya waktu lebih banyak dengan anak, ketimbang terapis.

Gayatri sendiri merupakan ibu dari seorang anak autis. Dengan telaten, dia membimbing anaknya. Hasilnya bisa menyetir mobil. Tak hanya itu, buah hati Gayatri bahkan bisa melakukan perjalanan sendiri dengan menggunakan pesawat terbang. Karena memiliki observasi terhadap karakter orang yang begitu luar biasa, tak heran anaknya punya hobi memotret.

Presenter kondang Farhan juga punya pengalaman merawat anak autis. Putra sulungnya terdeteksi autis sejak usia 18 bulan. Bukan autis murni, sang putra juga mengalami gangguan penyerta yakni hiperaktivitas.

Farhan juga tidak memungkiri bahwa hasil diagnosis membuatnya membeda-bedakan perlakuan terhadap anak-anak.

"Berdiagnosis itu berbahaya karena bisa membuat orang tua melakukan labelling pada anaknya sendiri. Hadapi semua anak dengan mindset yang sama, tetapi treatmentnya harus berbeda. Perlakuan terhadap anak A, anak B dan anak C memang berbeda, tidak mungkin sama," jelas Farhan beberapa waktu lalu.

Sang putra pun harus menjalani beberapa terapi seperti behavior intervention, kognitif, juga sensori integrasi hingga okupasi terapi. Gejala autisnya memang saat ini sudah berkurang,si anak masih belum sadar akan bahaya. Sehingga anak tersebut masih sering menyeberang jalan sembarangan.

Menurut Farhan, ada 5 hal penting yang perlu diajarkan kepada anak autis agar dapat mandiri, yaitu kebersihan diri, mengenali makanan sehat, mempelajari norma dan nilai-nilai di masyarakat, bersosialisasi dan terakhir pendidikan kognitif.

"Berpikirlah bahwa anak ini suatu hari harus hidup mandiri, tidak mungkin selamanya ada orang yang mendampingi. Jadi, bekalilah dia dengan kemampuan untuk bertahan hidup,"



Jakarta - Tidak bisa disangkal, pria humoris adalah salah satu tipe yang paling banyak dicari wanita untuk menjadi pasangan. Menurut survei yang melibatkan 15 ribu lajang di Inggris, ternyata selera humor yang baik ada dalam peringkat pertama dalam daftar 'karakter yang paling diidamkan sebagai pertimbangan menjadi pasangan hidup'.

Dikutip dari Female First, banyak yang menganggap dengan selera humor yang baik, hidup bersama akan terasa lebih menyenangkan, membahagiakan hati serta menenangkan jiwa. Selain itu masih ada banyak alasan lain kenapa wanita cenderung memilih pria dengan selera humor tinggi ketimbang yang serius, pemarah, bad boy atau nerd. Apa saja?

1. Penghilang Stres
Kebanyakan wanita senang dengan pria yang humoris karena bisa membuat dia keluar dari stres. Wanita sudah punya cukup banyak masalah dalam hidup mereka. Kehadiran pria yang temperamental atau terlalu serius akan membuat pikiran mereka tambah mumet dan masalah bisa bertambah. Saat stres, wanita ingin ditemani pasangan yang bisa membuat mereka tertawa.

2. Hubungan Asmara Lebih Hangat & Menyenangkan
Humor juga membuat hubungan menjadi berkualitas dan menyenangkan. Oleh sebab itu, pria dituntut dapat menciptakan suasana yang hangat serta membangkitkan semangat.

3. Meminimalisir Ketegangan dalam Hubungan
Pasangan yang humoris akan membuat hubungan tidak membosankan dan juga meredakan saat-saat tegang. Menertawakan masalah dan diri sendiri akan membuat hidup terasa lebih mudah serta memandang setiap masalah selalu dalam perspektif yang positif. Ditambah, itu adalah salah satu kesenangan terbesar untuk bisa tertawa dengan seseorang yang sangat dekat dengan Anda dalam situasi apapun, termasuk yang tidak mengenakkan sekalipun. eHarmony

4. Membuat Betah
Wanita umumnya suka dengan pria yang bisa mencairkan suasana dengan selera humor dan lelucon yang pintar. Kemampuan membuat seorang wanita tertawa, menjadi daya tarik tersendiri yang dimiliki pria. Wanita akan lebih cepat dekat dengan pria yang ceria dan menyenangkan.

5. Tidak Membosankan
Pria cerdas dan jenaka akan membuat Anda tertawa dengan selera humornya dan tetap membuat Anda tetap tertarik berbincang dengannya. Ia menguasai topik perbincangan dan tahu bagaimana membuatnya tetap ringan dan menarik. Tipe pria seperti ini cukup sulit dicari!

6. Humoris = Cerdas
Menurut survei yang dilansir CNN, pria humoris dianggap lebih cerdas ketimbang pria yang selalu serius. Kemampuan menangani situasi dengan sedikit lelucon dan bisa membuat orang tertawa adalah ciri-ciri orang yang cerdas. Selain itu, pria humoris juga dianggap bisa membuat mood mereka yang buruk, menjadi lebih menyenangkan. Tapi perlu dibedakan antara pria humoris dengan pria yang doyan melawak atau selalu menjadi bahan lelucon.